الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلا
مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ،
وَرَسُولُهُ،
Hadirin yang berbahagia, alhamdulillah kita telah dapat menyelesaikan
ibadah shaum ramadhan sebulan lamanya. Pada hari ini kita melaksanakan
‘Idul Fithri sebagai pertanda mengakhiri shaum ramadhan. Mudah-mudahan
shaum kita tidak hanya merasakan haus dan lapar saja, tetapi mendapatkan
jaminan pengampunan dosa.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Hadirin sekalian! Setiap orang pasti akan merasa bangga bila
mendapatkan warisan harta yang banyak. Karena dengan harta itu akan
dapat menjadi bekal untuk menghidupi keluarga. Pada hakikatnya al-Qur`an
juga adalah warisan. Al-Qur`an adalah warisan untuk dijadikan pedoman
dan bekal hidup meraih keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا
فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ
بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih
di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya
diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan
diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan
izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar. (QS.
Fathir [35]: 32)
Dalam ayat tersebut Allah mengungkapkan dengan kata
Tsumma auratsna al-Kitaba (kemudian
Kami wariskan al-Qur`an). Ini berarti bahwa al-Qur`an itu adalah
warisan. Demikian juga dalam hadits shahih, Nabi shallallähu ‘alaihi wa
sallam mengungkapkan:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ
Kami tinggalkan untuk kamu dua pusaka
Dua pusaka tersebut adalah al-Qur`an dan al-Hadits. Ini berarti bahwa al-Qur`an dan al-Sunnah merupakan
tirkah sebagaimana halnya harta warisan disebut
tirkah. Maka dengan ungkapan warisan seyogyanya umat Islam:
pertama, merasa
bangga dengan warisan al-Qur`an sebagaimana mendapatkan warisan harta
dan kekayaan. Bila Nabi shallallähu ‘alaihi wa sallam mewariskan 10.000
ekor unta atau 10.000 ton kurma, tentu tidak akan sampai kepada kita.
Terlebih sampai ke Indonesia, untuk bangsa Arab pun tidak akan cukup.
Sedangkan warisan al-Qur`an dan a-Hadits itu abadi dan dapat dimiliki
oleh setiap orang Islam.
Kedua, sadar untuk mengkaji dan mempelajari isi kandungan
al-Qur`an untuk dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Layaknya mendapat
warisan harta, kita pun harus sadar dan siap menggarap tanah warisan
sebagai bekal hidup.
Ketiga, siap membela dan mempertahankan al-Qur`an dan
ajarannya. Hal ini sebagaimana orang yang memperoleh warisan harta
berusaha membela dan mempertahankannya bila ada yang menggugatnya.
Keempat, menyadari batas-batas kegamaannya agar tidak
bercampur antara hak dan batil; antara hidayah dan dholalah. Hal ini
karena al-Qur`an memang sebagai
furqan; pembeda antara hak dan batil. Seperti halnya pemilik warisan, tentu akan mengetahui batas-batas tanah miliknya.
Kelima, mengevaluasi sejauh mana pesan-pesan al-Qur`an telah diamalkan. Al-Qur`an adalah
rahmatan li al-‘alamin; rahmat untuk seluruh alam. Bukan saja bagi manusia saja, binatang pun harus merasakan kasih sayang dengan perlakuan yang baik.
Setiap manusia pasti ingin selamat. Jangankan yang muslim, orang
kafir pun ingin selamat. Bahkan pencuri saja mau selamat. Buktinya
pencuri mengucapkan
alhamdulillah bila tidak kepergok atau
tidak tertangkap. Demikian juga tikus, ia mau selamat. Ia lari karena
takut dibunuh, tetapi sayangnya ia tidak tahu jalan keselamatan. Uang
100 ribu digigit sampai habis untuk dijadikan sarang, sementara ikan
dalam perangkap diambil, padahal itu mencelakakan dirinya. Manusia ingin
meraih keselamatan. Maka tidak ada resep dan konsep kecuali mengikuti
petunjuk al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk mengenai jalan
keselamatan.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Hadirin yang berbahagia! Dalam ayat di atas diungkapkan bahwa ada tiga klasifikasi pewaris al-Qur`an, yaitu:
Pertama, Zhalimun li nafsihi; yang zalim terhadap dirinya. Ia mengaku seorang muslim, percaya bahwa al-Qur`an adalah
kalamullah, wahyu
dari Allah, tetapi ia tidak tertarik untuk mengkaji, mempelajari, dan
mengamalkan pesan-pesannya, apalagi mendakwahkan dan
mensosialisasikannya. Keadaan ini seperti pemilik warisan yang tidak mau
menggarap tanah warisannya. Ia tidak mau menanam sehingga menikmati
hasil tanah warisan tersebut.
Ibnu Katsir mendefinisikan
zhalimun li nafsihi itu ialah:
اَلْمُفَرِّطُ فِي فِعْلِ بَعْضِ الْوَاجِبَاتِ الْمُرْتَكِبُ لِبَعْضِ الْمُحَرَّمَاتِ.
Yang lalai dalam melaksanakan kewajiban dan masih suka melakukan hal-hal yang diharamkan.
Kedua, muqtashid; ialah yang pertengahan; yaitu orang yang
tidak serius dan tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakan petunjuk
al-Qur`an. Seperti halnya pemilik warisan yang tidak sungguh-sungguh
dalam menggarap tanahnya. Ia tidak berupaya meningkatkan produksi
pertaniannya.
Ibnu Katsir mendefinisikannya sebagai berikut:
اَلْمُؤَدِّى لِلْوَاجِبَاتِ التَّارِكُ لِلْمُحَرَّمَاتِ وَقَدْ يَتْرُكُ بَعْضَ الْمُسْتَحَبَّاتِ.
Orang yang sadar melakukan kewajiban dan meninggalkan apa-apa yang
diharamkan, tetapi kadang masih meninggalkan hal-hal yang sunat.
Ketiga, sabiqun bi al-khairat; ialah yang berlomba dalam
melaksanakan kebaikan. Ia dapat memanfaatkan semua peluang dan
kesempatan untuk beramal shaleh. Menurut Ibnu Katsir mereka ialah:
اَلْفَاعِلُ لِلْوَاجِبَاتِ وَالْمُسْتَحَبَّاتِ اَلتَّارُ لِلْمُحَرَّمَاتِ وَالْمَكْرُوْهَاتِ وَبَعْضِ الْمُبَاحَاتِ.
Yang melakukan hal-hal yang wajib dan sunnat, meninggalkan yang haram juga yang makruh dan sebagian perkara-perkara yang mubah.
Demikianlah klasifikasi pewaris al-Qur`an.
Kita tidak dapat menutup mata bahwa masih banyak umat Islam yang
zhalimun li nafsihi, bahkan mungkin mayoritas. Sedikit sekali umat Islam yang
sabiqun bi al-khairat, bahkan yang
muqtashid. Oleh karenanya, bagaimana mungkin Islam dirasakan sebagai
rahmatan li al-‘alamin bila
kondisi umat Islam demikian. Kondisi ini menuntut pembenahan, pembinaan
dan bimbingan umat Islam dalam meningkatkan kesadaran beragama dan siap
membela serta memperjuangkan Islam di muka bumi ini.
Tujuan diturunkannya al-Qur`an
Manusia adalah makluk yang akan menjalani hidup di dunia yang
sementara dan hidup di akhirat kelak yang abadi. Untuk meraih
kebahagiaan dunia dan akhirat, tentu saja diperlukan petunjuk. Allah
telah menurunkan al-Qur`an sebagai petunjuk hidup untuk meraih
keselamatan dunia dan akhirat. Diantara fungsi al-Qur`an adalah:
Pertama, sebagai sumber hukum
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ
النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa
kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah
Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang
yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, (QS.
Al-Nisa [4]: 105)
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah
yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS.
Al-Ma`idah [5]: 50)
Kedua, sebagai petunjuk hidup
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al
Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS.
Al-Baqarah [2]: 185)
Ketiga, mengeluarkan manusia dari kegelapan
الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ
الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ
الْحَمِيدِ (1)
Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya
kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang
benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha
Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim [14]: 1)
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ
كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ
كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي
بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ
مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ
مُسْتَقِيمٍ (16)
Hai ahli Kitab! Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami,
menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyikan, dan
banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu
cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab Itulah Allah
menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang
itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan
seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Ma`idah
[5]: 15-16)
Keempat, sebagai obat yang menyembuhkan segala penyakit hati
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ
وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)
Hai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari
Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada
dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus
[10]: 57)
Demikianlah di antara tujuan mengapa al-Qur`an diturunkan. Tentu saja
dengan berpedoman kepada al-Qur`an manusia dijamin dapat meraih
kebahagiaan dunia dan akhirat, mendapatkan petunjuk jalan keselamatan,
dapat keluar dari alam kegelapan kepada alam yang terang benderang, dan
dapat terbebas dari seluruh penyakit hati seperti malas, kikir, sombong,
rakus, riya, hasud dan penyakit lainnya.
Salah memfungsikan al-Qur`an
Al-Qur`an adalah petunjuk hidup bagi manusia yang ditulis dengan
bahasa Arab. Untuk memahaminya dengan benar diperlukan seperangkat ilmu
sebagai dasar memahami dengan tepat dan benar. Ilmu tersebut adalah ilmu
nahwu, sharaf, ushul fiqiah, ‘ulumul qur`an, dan ilmu-ilmu lainnya yang
menunjang mengetahui isi al-Qur`an dengan benar. Akan tetapi, kadang
masih terdapat yang memfungsikan al-Qur`an sebagai azimat, jampe, pelet,
atau sebagai obat penyakit fisik dan sebagai khasiat yang lainnya
seperti ingin kaya, naik pangkat atau jabatan dan lainnya. meskipun
menggunakan al-Qur`an, ini dianggap sesat karena telah menggunakan
al-Qur`an tidak sesuai dengan semestinya.
Sejauh mana petunjuk al-Qur`an telah diamalkan
Umat Islam tidak hanya dituntut rajin membaca dan mempelajari
al-Qur`an. Akan tetapi, mereka pun dituntut untuk mengaplikasikannya
dalam kehidupan sehari-hari; baik berupa ibadah ritual ataupun ibadah
sosial. Hal ini seperti halnya perilaku Nabi Muhamad shallallähu ‘alaihi
wa sallam yang diungkapkan oleh ‘Aisyah radhiya Alläh ‘anh sewaktu
ditanya: “Bagaimana sikap dan akhlak Nabi?” Ia menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنُ
Akhlaknya adalah al-Qur`an
Dengan kata lain, Nabi adalah penjelmaan al-Qur`an. Demikian juga
sikap para sahabat Nabi. Mereka begitu kuat untuk mengamalkan kandungan
al-Qur`an sampai ada yang mencoba mengevaluasi mana saja ayat yang belum
diamalkan. Mereka baca dari awal al-Qur`an (al-Fatihah) sampai akhir
akhir (al-Nas), kemudian dievaluasi mana ayat yang belum diamalkan.
Akhirnya mereka menyimpulkan dengan ungkapan: “Tiga ayat al-Qur`an yang
belum merata diamalkan oleh para shabat Rasululläh.”
Diantara tiga ayat yang belum diamalkan tersebut adalah surat al-Nur
ayat 58. Ayat ini melarang anak yang belum dewasa masuk kamar orang tua
dalam tiga waktu: yaitu setelah zhuhur, setelah isya, dan sebelum
shubuh. Karena ketiga waktu itu adalah waktu-waktu yang aurat. Mereka
harus meminta izin untuk masuk kamar orang tua dalam waktu-waktu
tersebut.
Hadirin yang berbahagia! Dengan demikian kita dituntut untuk
menjadikan al-Qur`an dan al-Hadits sebagai pedoman hidup guna meraih
keselamatan di dunia dan akhirat; meraih hasanah di dunia dan menggapai
hasanah di akhirat.
Orang yang paling merugi ialah orang yang menderita di akhirat; yaitu
kekal di neraka. Sedangkan orang yang paling beruntung ialah mereka
yang meraih kebahagiaan di akhirat dengan memasuki surga. Surga adalah
tempat kenikmatan dan kebahagiaan yang abadi. Untuk meraihnya, ikutilah
petunjuk al-Qur`an dan al-Sunnah. Jadikanlah keduanya pedoman hidup
kita.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan. Mudah-mudahan Allah membuka
pintu hati kita untuk menerima dan mengamalkan petunjuk-Nya amin.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ