DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 73

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 73
KERJA KITA PRESTASI BANGSA
Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Desember 2012

Etika Pakaian Muslimah

Allah SWT menghendaki agar wanita islam berpakaian sesuai dengan fungsinya, yaitu fungsi pakaian yang dikehendaki Allah SWT
Allah SWT berfirman:
“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithon sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan kedua pakaiannya untuk memperhatikan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan syaithon-syaithon itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”(QS.Al A’raaf,7:26-27)

Minggu, 09 Desember 2012

MENJAGA AMANAH ANAK YATIM

DEMI MENJAGA AMANAH ANAK YATIM
RELA TERSENGAT PANAS TERIK MATAHARI

Suatu ketika Sahabat Utsman ibn Affan sedang beristirahat di rumahnya dalam cuaca yang sangat panas sampai unta pun terpaksa berteduh di bawah bayangan masjid. Tiidak lama kemudian datanglah seorang pria separo baya. Tanpa menghiraukan hamburan debu, orang itu berlari menembus tengah hari yang panasnya me
ngeringkan semak belukar.

PENTING!!!

PENTING!!!

Buka Computer/ Laptop anda pada "Local
Disc (C)" Lalu Klik
"Program Files" Kemudian Klik
..."Microsoft Office" Lalu Klik
"MEDIA" dan Klik "CAGCAT 10"
Terakhir Cari gambar no
"J0285926" Kemudian di Klik Anda
akan menjumpai gambar
lambang/ bendera ZIONIS Yahudi
lengkap (sama dengan warna
aslinya), dengan lilin, (sarana
ibadah mereka). DELETE gambar
tersebut. Dan perlu diketahui,
gambar tersebut ada di seluruh
PC dan laptop. Semoga bermanfaat
Sobat Muslim.

Senin, 03 Desember 2012

"FAKTA PENDIDIKAN"

"FAKTA PENDIDIKAN"

Mengapa bangsa Australia yang 'leluhurnya' berasal dari Tahanan Kriminal Inggris kini mampu masuk 10 negara TERBAIK untuk tempat tinggal manusia & memiliki tingkat kriminalitas terendah di dunia..? (Melbourne terbaik)

Info Kesehatan:

Info Kesehatan:
①Jgn menggaruk dgn kuku voucher isi ulang pulsa ponsel,krn mengandung lapisan Perak Oksida Nitro yg dpt menyebabkan kanker kulit.
②Jawablah panggilan telepon dgn telinga kiri,utk menghindari kerusakan syaraf yg lbh akut.
③ Bila baterai ponsel LOW pd bar terakhir, jgn menjwb telepon, krn radiasinya 1000 kali lebih kuat.J.
④ Jangan makan makanan berat stlh pkl 17.00,memicu obesitas.
⑤Minum lbh banyak air pada pagi hari (utk mencukupi kebutuhan air dan proses pembuangan racun), kurangi pd malam hari,dpt memicu urinasi.
⑥Waktu tidur terbaik adalah 22:00-04:00.
⑦Jangan langsung berbaring setelah minum obat,memperlambat proses penyerapan.
⑧angan minum obat dgn air dingin dr kulkas,krn sukar diserap

Maukah Anda meneruskan ini kepada orang yang Anda sayangi?
Saya baru saja melakukannya!
Kebaikan tanpa biaya apa-apa dan pengetahuan adalah kebaikan.

Semoga bermanfaat

Senin, 19 November 2012

“AIR INI HANYA UNTUK INSINYUR!!” ....

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … 
Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.

Selasa, 18 September 2012

Teruslah Berdzikir Hingga Akhir Hayat

Saudaraku, seiman seaqidah. Mengapa kita terus menerus berdzikir? Karena umur kita terus bertambah usia berkurang. Semakin lama, tiap jam, tiap menit, tiap detik, kita semakin mendekati kematian. Dan sesungguhnya hamba-hamba yang beriman sangat menantikan husnul khotimah.

Bagi orang yang beriman, tidak peduli di mana ia mati. Tapi bagi orang-orang beriman, ia peduli bagaimana cara ia mati.

Minggu, 16 September 2012


"Sesungguhnya Allah SWT membuka "tangan"-Nya pada malam hari untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada siang hari, dan membuka "tangan"-Nya pada siang hari, untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada malam hari, (terus berlangsung demikian) hingga (datang masanya) matahari terbit dari Barat (kiamat)". Hadits diriwayatkan oleh an-Nasaai.

"Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah SWT, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah SWT dalam satu hari sebanyak seratus kali". (Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari Al Aghar al Muzni.)

Jumat, 07 September 2012

renungan

Assalamu alaikum sahabat hindari siksa/azab Allah dgn syukur : Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri[370] lagi Maha Mengetahui.Qs.4/147
[370]. Allah mensyukuri hamba-hamba-Nya: memberi pahala terhadap amal-amal hamba-hamba-Nya, mema'afkan kesalahannya, menambah nikmat-Nya.

Jika bisnis medan perang

Jika bisnis medan perang. Maka seorang laki-laki pebisnis semestinya memiliki mental “Pembunuh dan tak kenal kompromi”. Dia harus siap membunuh kemalasan, leha-leha, dan siap “menembak mati” segala godaan yang merusak bisnisnya. Godaan ingin ngutang, bohong, menipu dan boros. Untuk semua itu tidak boleh ada kompromi.

Seorang laki-laki cemen yang kerjanya mengeluh, pengen dikasihani dan obral penderitaan sesungguhnya tengah menggiring dirinya kelembah kehinaan.

Padahal setiap orang dilakhirkan dengan kemampuan sukses. Siapapun dan apapun tidak akan pernah menghalangi orang untuk sukses, kecuali dia menyerah dan berhenti berjuang. Selagi ada kesempatan, peluang sukses selalu terbuka.


Maka siapkan “rudak balistik” sebanyak mungkin. Jangan lupa isi hati ini dengan peluru sepenuhnya. Dan bersiap mengobrak-abrik segala potensi yang menghalangi jalan sukses. Dan SUKSES ternyata ADA DIDEPAN MATA.

Kamis, 06 September 2012

Muaz bin Jabal pernah menegaskan: "Tuntut olehmu akan ilmu sesungguhnya menuntut ilmu kerana Allah akan menjadikan kamu takut kepada-Nya. Menuntut ilmu adalah ibadat, mengingati ilmu merupakan tasbih, membincangnya pula adalah jihad dan sekiranya kamu ajar kepada orang yang tidak mengetahui adalah sedekah. Manakala menghabiskan masa dengan ahli ilmu merupakan pendekatan diri kepada Allah dan ilmulah yang memberi pengetahuan terhadap kamu soal halal haram, makruh atau syubhah yang akan terpelihara diri kamu dari api neraka".

Muaz bin Jabal pernah menegaskan: "Tuntut olehmu akan ilmu sesungguhnya menuntut ilmu kerana Allah akan menjadikan kamu takut kepada-Nya. Menuntut ilmu adalah ibadat, mengingati ilmu merupakan tasbih, membincangnya pula adalah jihad dan sekiranya kamu ajar kepada orang yang tidak mengetahui adalah sedekah. Manakala menghabiskan masa dengan ahli ilmu merupakan pendekatan diri kepada Allah dan ilmulah yang memberi pengetahuan terhadap kamu soal halal haram, makruh atau syubhah yang akan terpelihara diri kamu dari api neraka".

Minggu, 19 Agustus 2012

Pesan ulama

  • Pesan Syaikh Al-Albani

    Kami nasehatkan para pemuda untuk senantiasa beramal dengan al-Qur’an dan as-Sunnah sebatas dengan ilmu yang dimilikinya, dan janganlah mereka lancang menuduh orang lain yang ilmu, faham dan kesholihannya tidak mampu mereka tandingi dan tidak pula mereka mampu membandingkan pemahaman mereka dengan orang-orang semisal mereka ini, tidak pula kejujuran mereka. Jika kita membuka pintu pemboikotan dan mudah menvonis manusia sebagai mubtadi’, maka sebaiknya kita pergi dan menyepi di gunung-gunung. Karena yang wajib bagi kita sekarang adalah berdakwah mengajak ke jalan Rabb kita dengan cara yang hikmah dan mau`idhoh (pelajaran) yang baik serta jidal (berdiskusi) dengan mereka dengan cara yang lebih baik.

Adab bergaul

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Ikrimah dari Ibnu 'Abbas radliyallaahu 'anhuma bahwasannya ia berkata : "Janganlah aku mendapatkan kamu mendatangi suatu kaum sedang mereka dalam pembicaraannya, lalu kamu memberikan kisahmu pada mereka dan memotong pembicaraan mereka dengannya. Maka kamu telah membuat mereka bosan. Namun,..(duduk dan) diamlah. Apabila mereka memintamu memberi nasihat, maka berilah nasihat dimana mereka akan mendengarkannya" (HR. Bukhari no. 6337)

Adab menjawab pertanyaan

Dari Nafi’ diriwayatkan, bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang satu persoalan. Beliau menundukkan kepalanya dan tidak memberikan jawaban. Orang-orang mengira beliau tidak mendengar pertanyaannya. Laki-laki itu kembali bertanya : “Semoga Allah merahmati Anda, apakah Anda tidak mendengar pertanyaan saya ?”. Beliau menjawab : “Dengar, tapi saya melihat kalian semua beranggapan bahwa Allah tidak akan meminta pertanggung-jawaban kami atas jawaban kami atas persoalan yang ditanyakan kepada kami. Biarkanlah, sampai kami dapat memberi jawaban atas pertanyaanmu – semoga Allah merahmatimu -, bila memang kami memiliki bahan sebagai jawabannya. Kalau tidak, kami akan memberitahukan kalian bahwa kami tidak memiliki ilmu tentang hal itu” (Shifatush-Shafwah oleh Ibnul-Jauzi 1/566)

Ilmu Yang Dicari

Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata:
“Janganlah kalian mempelajari ilmu karena tiga hal:
(1) dalam rangka debat kusir dengan orang-orang bodoh,
(2) untuk mendebat para ulama, atau
(3) memalingkan wajah-wajah manusia ke arah kalian.

Carilah apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan ucapan dan perbuatan kalian. Karena, sesungguhnya itulah yang kekal abadi, sedangkan yang selain itu akan hilang dan pergi.”
(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/45)

Kamis, 16 Agustus 2012

hutbah idul fitri oleh Ust. A. Zakaria

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ، وَرَسُولُهُ،

Hadirin yang berbahagia, alhamdulillah kita telah dapat menyelesaikan ibadah shaum ramadhan sebulan lamanya. Pada hari ini kita melaksanakan ‘Idul Fithri sebagai pertanda mengakhiri shaum ramadhan. Mudah-mudahan shaum kita tidak hanya merasakan haus dan lapar saja, tetapi mendapatkan jaminan pengampunan dosa.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Hadirin sekalian! Setiap orang pasti akan merasa bangga bila mendapatkan warisan harta yang banyak. Karena dengan harta itu akan dapat menjadi bekal untuk menghidupi keluarga. Pada hakikatnya al-Qur`an juga adalah warisan. Al-Qur`an adalah warisan untuk dijadikan pedoman dan bekal hidup meraih keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar. (QS. Fathir [35]: 32)
Dalam ayat tersebut Allah mengungkapkan dengan kata Tsumma auratsna al-Kitaba (kemudian Kami wariskan al-Qur`an). Ini berarti bahwa al-Qur`an itu adalah warisan. Demikian juga dalam hadits shahih, Nabi shallallähu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ

Kami tinggalkan untuk kamu dua pusaka
Dua pusaka tersebut adalah al-Qur`an dan al-Hadits. Ini berarti bahwa al-Qur`an dan al-Sunnah merupakan tirkah sebagaimana halnya harta warisan disebut tirkah. Maka dengan ungkapan warisan seyogyanya umat Islam: pertama, merasa bangga dengan warisan al-Qur`an sebagaimana mendapatkan warisan harta dan kekayaan. Bila Nabi shallallähu ‘alaihi wa sallam mewariskan 10.000 ekor unta atau 10.000 ton kurma, tentu tidak akan sampai kepada kita. Terlebih sampai ke Indonesia, untuk bangsa Arab pun tidak akan cukup. Sedangkan warisan al-Qur`an dan a-Hadits itu abadi dan dapat dimiliki oleh setiap orang Islam.
Kedua, sadar untuk mengkaji dan mempelajari isi kandungan al-Qur`an untuk dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Layaknya mendapat warisan harta, kita pun harus sadar dan siap menggarap tanah warisan sebagai bekal hidup.
Ketiga, siap membela dan mempertahankan al-Qur`an dan ajarannya. Hal ini sebagaimana orang yang memperoleh warisan harta berusaha membela dan mempertahankannya bila ada yang menggugatnya.
Keempat, menyadari batas-batas kegamaannya agar tidak bercampur antara hak dan batil; antara hidayah dan dholalah. Hal ini karena al-Qur`an memang sebagai furqan; pembeda antara hak dan batil. Seperti halnya pemilik warisan, tentu akan mengetahui batas-batas tanah miliknya.
Kelima, mengevaluasi sejauh mana pesan-pesan al-Qur`an telah diamalkan. Al-Qur`an adalah rahmatan li al-‘alamin; rahmat untuk seluruh alam. Bukan saja bagi manusia saja, binatang pun harus merasakan kasih sayang dengan perlakuan yang baik.
Setiap manusia pasti ingin selamat. Jangankan yang muslim, orang kafir pun ingin selamat. Bahkan pencuri saja mau selamat. Buktinya pencuri mengucapkan alhamdulillah bila tidak kepergok atau tidak tertangkap. Demikian juga tikus, ia mau selamat. Ia lari karena takut dibunuh, tetapi sayangnya ia tidak tahu jalan keselamatan. Uang 100 ribu digigit sampai habis untuk dijadikan sarang, sementara ikan dalam perangkap diambil, padahal itu mencelakakan dirinya. Manusia ingin meraih keselamatan. Maka tidak ada resep dan konsep kecuali mengikuti petunjuk al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk mengenai jalan keselamatan.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Hadirin yang berbahagia! Dalam ayat di atas diungkapkan bahwa ada tiga klasifikasi pewaris al-Qur`an, yaitu:
Pertama, Zhalimun li nafsihi; yang zalim terhadap dirinya. Ia mengaku seorang muslim, percaya bahwa al-Qur`an adalah kalamullah, wahyu dari Allah, tetapi ia tidak tertarik untuk mengkaji, mempelajari, dan mengamalkan pesan-pesannya, apalagi mendakwahkan dan mensosialisasikannya. Keadaan ini seperti pemilik warisan yang tidak mau menggarap tanah warisannya. Ia tidak mau menanam sehingga menikmati hasil tanah warisan tersebut.
Ibnu Katsir mendefinisikan zhalimun li nafsihi itu ialah:

اَلْمُفَرِّطُ فِي فِعْلِ بَعْضِ الْوَاجِبَاتِ الْمُرْتَكِبُ لِبَعْضِ الْمُحَرَّمَاتِ.

Yang lalai dalam melaksanakan kewajiban dan masih suka melakukan hal-hal yang diharamkan.
Kedua, muqtashid; ialah yang pertengahan; yaitu orang yang tidak serius dan tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakan petunjuk al-Qur`an. Seperti halnya pemilik warisan yang tidak sungguh-sungguh dalam menggarap tanahnya. Ia tidak berupaya meningkatkan produksi pertaniannya.
Ibnu Katsir mendefinisikannya sebagai berikut:

اَلْمُؤَدِّى لِلْوَاجِبَاتِ التَّارِكُ لِلْمُحَرَّمَاتِ وَقَدْ يَتْرُكُ بَعْضَ الْمُسْتَحَبَّاتِ.

Orang yang sadar melakukan kewajiban dan meninggalkan apa-apa yang diharamkan, tetapi kadang masih meninggalkan hal-hal yang sunat.
Ketiga, sabiqun bi al-khairat; ialah yang berlomba dalam melaksanakan kebaikan. Ia dapat memanfaatkan semua peluang dan kesempatan untuk beramal shaleh. Menurut Ibnu Katsir mereka ialah:

اَلْفَاعِلُ لِلْوَاجِبَاتِ وَالْمُسْتَحَبَّاتِ اَلتَّارُ لِلْمُحَرَّمَاتِ وَالْمَكْرُوْهَاتِ وَبَعْضِ الْمُبَاحَاتِ.

Yang melakukan hal-hal yang wajib dan sunnat, meninggalkan yang haram juga yang makruh dan sebagian perkara-perkara yang mubah.
Demikianlah klasifikasi pewaris al-Qur`an.
Kita tidak dapat menutup mata bahwa masih banyak umat Islam yang zhalimun li nafsihi, bahkan mungkin mayoritas. Sedikit sekali umat Islam yang sabiqun bi al-khairat, bahkan yang muqtashid. Oleh karenanya, bagaimana mungkin Islam dirasakan sebagai rahmatan li al-‘alamin bila kondisi umat Islam demikian. Kondisi ini menuntut pembenahan, pembinaan dan bimbingan umat Islam dalam meningkatkan kesadaran beragama dan siap membela serta memperjuangkan Islam di muka bumi ini.
Tujuan diturunkannya al-Qur`an
Manusia adalah makluk yang akan menjalani hidup di dunia yang sementara dan hidup di akhirat kelak yang abadi. Untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, tentu saja diperlukan petunjuk. Allah telah menurunkan al-Qur`an sebagai petunjuk hidup untuk meraih keselamatan dunia dan akhirat. Diantara fungsi al-Qur`an adalah:
Pertama, sebagai sumber hukum

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, (QS. Al-Nisa [4]: 105)

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Ma`idah [5]: 50)
Kedua, sebagai petunjuk hidup

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Ketiga, mengeluarkan manusia dari kegelapan

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (1)

Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim [14]: 1)

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16)

Hai ahli Kitab! Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Ma`idah [5]: 15-16)
Keempat, sebagai obat yang menyembuhkan segala penyakit hati

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)

Hai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]: 57)
Demikianlah di antara tujuan mengapa al-Qur`an diturunkan. Tentu saja dengan berpedoman kepada al-Qur`an manusia dijamin dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, mendapatkan petunjuk jalan keselamatan, dapat keluar dari alam kegelapan kepada alam yang terang benderang, dan dapat terbebas dari seluruh penyakit hati seperti malas, kikir, sombong, rakus, riya, hasud dan penyakit lainnya.
Salah memfungsikan al-Qur`an
Al-Qur`an adalah petunjuk hidup bagi manusia yang ditulis dengan bahasa Arab. Untuk memahaminya dengan benar diperlukan seperangkat ilmu sebagai dasar memahami dengan tepat dan benar. Ilmu tersebut adalah ilmu nahwu, sharaf, ushul fiqiah, ‘ulumul qur`an, dan ilmu-ilmu lainnya yang menunjang mengetahui isi al-Qur`an dengan benar. Akan tetapi, kadang masih terdapat yang memfungsikan al-Qur`an sebagai azimat, jampe, pelet, atau sebagai obat penyakit fisik dan sebagai khasiat yang lainnya seperti ingin kaya, naik pangkat atau jabatan dan lainnya. meskipun menggunakan al-Qur`an, ini dianggap sesat karena telah menggunakan al-Qur`an tidak sesuai dengan semestinya.
Sejauh mana petunjuk al-Qur`an telah diamalkan
Umat Islam tidak hanya dituntut rajin membaca dan mempelajari al-Qur`an. Akan tetapi, mereka pun dituntut untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari; baik berupa ibadah ritual ataupun ibadah sosial. Hal ini seperti halnya perilaku Nabi Muhamad shallallähu ‘alaihi wa sallam yang diungkapkan oleh ‘Aisyah radhiya Alläh ‘anh sewaktu ditanya: “Bagaimana sikap dan akhlak Nabi?” Ia menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنُ

Akhlaknya adalah al-Qur`an
Dengan kata lain, Nabi adalah penjelmaan al-Qur`an. Demikian juga sikap para sahabat Nabi. Mereka begitu kuat untuk mengamalkan kandungan al-Qur`an sampai ada yang mencoba mengevaluasi mana saja ayat yang belum diamalkan. Mereka baca dari awal al-Qur`an (al-Fatihah) sampai akhir akhir (al-Nas), kemudian dievaluasi mana ayat yang belum diamalkan. Akhirnya mereka menyimpulkan dengan ungkapan: “Tiga ayat al-Qur`an yang belum merata diamalkan oleh para shabat Rasululläh.”
Diantara tiga ayat yang belum diamalkan tersebut adalah surat al-Nur ayat 58. Ayat ini melarang anak yang belum dewasa masuk kamar orang tua dalam tiga waktu: yaitu setelah zhuhur, setelah isya, dan sebelum shubuh. Karena ketiga waktu itu adalah waktu-waktu yang aurat. Mereka harus meminta izin untuk masuk kamar orang tua dalam waktu-waktu tersebut.
Hadirin yang berbahagia! Dengan demikian kita dituntut untuk menjadikan al-Qur`an dan al-Hadits sebagai pedoman hidup guna meraih keselamatan di dunia dan akhirat; meraih hasanah di dunia dan menggapai hasanah di akhirat.
Orang yang paling merugi ialah orang yang menderita di akhirat; yaitu kekal di neraka. Sedangkan orang yang paling beruntung ialah mereka yang meraih kebahagiaan di akhirat dengan memasuki surga. Surga adalah tempat kenikmatan dan kebahagiaan yang abadi. Untuk meraihnya, ikutilah petunjuk al-Qur`an dan al-Sunnah. Jadikanlah keduanya pedoman hidup kita.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan. Mudah-mudahan Allah membuka pintu hati kita untuk menerima dan mengamalkan petunjuk-Nya amin.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

hutbah idul fitri oleh Ust. A. Zakaria

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ، وَرَسُولُهُ،

Hadirin yang berbahagia, alhamdulillah kita telah dapat menyelesaikan ibadah shaum ramadhan sebulan lamanya. Pada hari ini kita melaksanakan ‘Idul Fithri sebagai pertanda mengakhiri shaum ramadhan. Mudah-mudahan shaum kita tidak hanya merasakan haus dan lapar saja, tetapi mendapatkan jaminan pengampunan dosa.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Hadirin sekalian! Setiap orang pasti akan merasa bangga bila mendapatkan warisan harta yang banyak. Karena dengan harta itu akan dapat menjadi bekal untuk menghidupi keluarga. Pada hakikatnya al-Qur`an juga adalah warisan. Al-Qur`an adalah warisan untuk dijadikan pedoman dan bekal hidup meraih keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar. (QS. Fathir [35]: 32)
Dalam ayat tersebut Allah mengungkapkan dengan kata Tsumma auratsna al-Kitaba (kemudian Kami wariskan al-Qur`an). Ini berarti bahwa al-Qur`an itu adalah warisan. Demikian juga dalam hadits shahih, Nabi shallallähu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ

Kami tinggalkan untuk kamu dua pusaka
Dua pusaka tersebut adalah al-Qur`an dan al-Hadits. Ini berarti bahwa al-Qur`an dan al-Sunnah merupakan tirkah sebagaimana halnya harta warisan disebut tirkah. Maka dengan ungkapan warisan seyogyanya umat Islam: pertama, merasa bangga dengan warisan al-Qur`an sebagaimana mendapatkan warisan harta dan kekayaan. Bila Nabi shallallähu ‘alaihi wa sallam mewariskan 10.000 ekor unta atau 10.000 ton kurma, tentu tidak akan sampai kepada kita. Terlebih sampai ke Indonesia, untuk bangsa Arab pun tidak akan cukup. Sedangkan warisan al-Qur`an dan a-Hadits itu abadi dan dapat dimiliki oleh setiap orang Islam.
Kedua, sadar untuk mengkaji dan mempelajari isi kandungan al-Qur`an untuk dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Layaknya mendapat warisan harta, kita pun harus sadar dan siap menggarap tanah warisan sebagai bekal hidup.
Ketiga, siap membela dan mempertahankan al-Qur`an dan ajarannya. Hal ini sebagaimana orang yang memperoleh warisan harta berusaha membela dan mempertahankannya bila ada yang menggugatnya.
Keempat, menyadari batas-batas kegamaannya agar tidak bercampur antara hak dan batil; antara hidayah dan dholalah. Hal ini karena al-Qur`an memang sebagai furqan; pembeda antara hak dan batil. Seperti halnya pemilik warisan, tentu akan mengetahui batas-batas tanah miliknya.
Kelima, mengevaluasi sejauh mana pesan-pesan al-Qur`an telah diamalkan. Al-Qur`an adalah rahmatan li al-‘alamin; rahmat untuk seluruh alam. Bukan saja bagi manusia saja, binatang pun harus merasakan kasih sayang dengan perlakuan yang baik.
Setiap manusia pasti ingin selamat. Jangankan yang muslim, orang kafir pun ingin selamat. Bahkan pencuri saja mau selamat. Buktinya pencuri mengucapkan alhamdulillah bila tidak kepergok atau tidak tertangkap. Demikian juga tikus, ia mau selamat. Ia lari karena takut dibunuh, tetapi sayangnya ia tidak tahu jalan keselamatan. Uang 100 ribu digigit sampai habis untuk dijadikan sarang, sementara ikan dalam perangkap diambil, padahal itu mencelakakan dirinya. Manusia ingin meraih keselamatan. Maka tidak ada resep dan konsep kecuali mengikuti petunjuk al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk mengenai jalan keselamatan.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Hadirin yang berbahagia! Dalam ayat di atas diungkapkan bahwa ada tiga klasifikasi pewaris al-Qur`an, yaitu:
Pertama, Zhalimun li nafsihi; yang zalim terhadap dirinya. Ia mengaku seorang muslim, percaya bahwa al-Qur`an adalah kalamullah, wahyu dari Allah, tetapi ia tidak tertarik untuk mengkaji, mempelajari, dan mengamalkan pesan-pesannya, apalagi mendakwahkan dan mensosialisasikannya. Keadaan ini seperti pemilik warisan yang tidak mau menggarap tanah warisannya. Ia tidak mau menanam sehingga menikmati hasil tanah warisan tersebut.
Ibnu Katsir mendefinisikan zhalimun li nafsihi itu ialah:

اَلْمُفَرِّطُ فِي فِعْلِ بَعْضِ الْوَاجِبَاتِ الْمُرْتَكِبُ لِبَعْضِ الْمُحَرَّمَاتِ.

Yang lalai dalam melaksanakan kewajiban dan masih suka melakukan hal-hal yang diharamkan.
Kedua, muqtashid; ialah yang pertengahan; yaitu orang yang tidak serius dan tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakan petunjuk al-Qur`an. Seperti halnya pemilik warisan yang tidak sungguh-sungguh dalam menggarap tanahnya. Ia tidak berupaya meningkatkan produksi pertaniannya.
Ibnu Katsir mendefinisikannya sebagai berikut:

اَلْمُؤَدِّى لِلْوَاجِبَاتِ التَّارِكُ لِلْمُحَرَّمَاتِ وَقَدْ يَتْرُكُ بَعْضَ الْمُسْتَحَبَّاتِ.

Orang yang sadar melakukan kewajiban dan meninggalkan apa-apa yang diharamkan, tetapi kadang masih meninggalkan hal-hal yang sunat.
Ketiga, sabiqun bi al-khairat; ialah yang berlomba dalam melaksanakan kebaikan. Ia dapat memanfaatkan semua peluang dan kesempatan untuk beramal shaleh. Menurut Ibnu Katsir mereka ialah:

اَلْفَاعِلُ لِلْوَاجِبَاتِ وَالْمُسْتَحَبَّاتِ اَلتَّارُ لِلْمُحَرَّمَاتِ وَالْمَكْرُوْهَاتِ وَبَعْضِ الْمُبَاحَاتِ.

Yang melakukan hal-hal yang wajib dan sunnat, meninggalkan yang haram juga yang makruh dan sebagian perkara-perkara yang mubah.
Demikianlah klasifikasi pewaris al-Qur`an.
Kita tidak dapat menutup mata bahwa masih banyak umat Islam yang zhalimun li nafsihi, bahkan mungkin mayoritas. Sedikit sekali umat Islam yang sabiqun bi al-khairat, bahkan yang muqtashid. Oleh karenanya, bagaimana mungkin Islam dirasakan sebagai rahmatan li al-‘alamin bila kondisi umat Islam demikian. Kondisi ini menuntut pembenahan, pembinaan dan bimbingan umat Islam dalam meningkatkan kesadaran beragama dan siap membela serta memperjuangkan Islam di muka bumi ini.
Tujuan diturunkannya al-Qur`an
Manusia adalah makluk yang akan menjalani hidup di dunia yang sementara dan hidup di akhirat kelak yang abadi. Untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, tentu saja diperlukan petunjuk. Allah telah menurunkan al-Qur`an sebagai petunjuk hidup untuk meraih keselamatan dunia dan akhirat. Diantara fungsi al-Qur`an adalah:
Pertama, sebagai sumber hukum

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, (QS. Al-Nisa [4]: 105)

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Ma`idah [5]: 50)
Kedua, sebagai petunjuk hidup

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Ketiga, mengeluarkan manusia dari kegelapan

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (1)

Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim [14]: 1)

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16)

Hai ahli Kitab! Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Ma`idah [5]: 15-16)
Keempat, sebagai obat yang menyembuhkan segala penyakit hati

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)

Hai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]: 57)
Demikianlah di antara tujuan mengapa al-Qur`an diturunkan. Tentu saja dengan berpedoman kepada al-Qur`an manusia dijamin dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, mendapatkan petunjuk jalan keselamatan, dapat keluar dari alam kegelapan kepada alam yang terang benderang, dan dapat terbebas dari seluruh penyakit hati seperti malas, kikir, sombong, rakus, riya, hasud dan penyakit lainnya.
Salah memfungsikan al-Qur`an
Al-Qur`an adalah petunjuk hidup bagi manusia yang ditulis dengan bahasa Arab. Untuk memahaminya dengan benar diperlukan seperangkat ilmu sebagai dasar memahami dengan tepat dan benar. Ilmu tersebut adalah ilmu nahwu, sharaf, ushul fiqiah, ‘ulumul qur`an, dan ilmu-ilmu lainnya yang menunjang mengetahui isi al-Qur`an dengan benar. Akan tetapi, kadang masih terdapat yang memfungsikan al-Qur`an sebagai azimat, jampe, pelet, atau sebagai obat penyakit fisik dan sebagai khasiat yang lainnya seperti ingin kaya, naik pangkat atau jabatan dan lainnya. meskipun menggunakan al-Qur`an, ini dianggap sesat karena telah menggunakan al-Qur`an tidak sesuai dengan semestinya.
Sejauh mana petunjuk al-Qur`an telah diamalkan
Umat Islam tidak hanya dituntut rajin membaca dan mempelajari al-Qur`an. Akan tetapi, mereka pun dituntut untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari; baik berupa ibadah ritual ataupun ibadah sosial. Hal ini seperti halnya perilaku Nabi Muhamad shallallähu ‘alaihi wa sallam yang diungkapkan oleh ‘Aisyah radhiya Alläh ‘anh sewaktu ditanya: “Bagaimana sikap dan akhlak Nabi?” Ia menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنُ

Akhlaknya adalah al-Qur`an
Dengan kata lain, Nabi adalah penjelmaan al-Qur`an. Demikian juga sikap para sahabat Nabi. Mereka begitu kuat untuk mengamalkan kandungan al-Qur`an sampai ada yang mencoba mengevaluasi mana saja ayat yang belum diamalkan. Mereka baca dari awal al-Qur`an (al-Fatihah) sampai akhir akhir (al-Nas), kemudian dievaluasi mana ayat yang belum diamalkan. Akhirnya mereka menyimpulkan dengan ungkapan: “Tiga ayat al-Qur`an yang belum merata diamalkan oleh para shabat Rasululläh.”
Diantara tiga ayat yang belum diamalkan tersebut adalah surat al-Nur ayat 58. Ayat ini melarang anak yang belum dewasa masuk kamar orang tua dalam tiga waktu: yaitu setelah zhuhur, setelah isya, dan sebelum shubuh. Karena ketiga waktu itu adalah waktu-waktu yang aurat. Mereka harus meminta izin untuk masuk kamar orang tua dalam waktu-waktu tersebut.
Hadirin yang berbahagia! Dengan demikian kita dituntut untuk menjadikan al-Qur`an dan al-Hadits sebagai pedoman hidup guna meraih keselamatan di dunia dan akhirat; meraih hasanah di dunia dan menggapai hasanah di akhirat.
Orang yang paling merugi ialah orang yang menderita di akhirat; yaitu kekal di neraka. Sedangkan orang yang paling beruntung ialah mereka yang meraih kebahagiaan di akhirat dengan memasuki surga. Surga adalah tempat kenikmatan dan kebahagiaan yang abadi. Untuk meraihnya, ikutilah petunjuk al-Qur`an dan al-Sunnah. Jadikanlah keduanya pedoman hidup kita.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan. Mudah-mudahan Allah membuka pintu hati kita untuk menerima dan mengamalkan petunjuk-Nya amin.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ